0

Sahabat Terhebat

Posted in
"Masa depanku akan ku tentukan hari ini" teriak kami mengikuti kata-kata buk Nela, lalu Teng tong teng tong....dua kali lonceng itu kembali berdentang menandakan jam usai sekolah, sontak berhamburan siswa berseragam batik biru menyemut membanjiri halaman sekolah seluas satu kali lapangan bola setelah dipotong-potong dengan diameter pohon beringin tua ditambah lagi lapak mas qosin yang tak pernah sepi dari para siswa.

"sep, makan yuuk" sambil menepuk pundakku, lalu kedipan mata itu menggodaku untuk segera mengekor dibelakangnya.

"hehehe tau aja des kalo aku dah terjangkit busung lapar sejak buk nela masuk ruangan tadi dan berceramah mengenai dongeng-dongeng rumus fisika itu" cengirku mengiyakan ajakan cewe tomboy kelahiran Indramayu itu.

"ya eyalaah, masa masih meragukan perhatian aku ke kamu ciiih." gaya alaynya selalu saja gagal menutupi ketomboyannya, Lalu dipecah dengan gelak tawa kami berdua sambil meninggalkan deretan bangku-bangku kelas yang mulai kosong.
*****
"Rizki Rahayu" pengeras suara itu kembali memanggil nama-nama peraih peringkat Mumtaz, "Septya " aku hanya tersenyum saat nama itu disebutkan, dan disusul dengan langkah kecilku. Sejak tahun pertama aku sudah menjadi langganan peserta Takrim, istilah untuk penghargaan bagi mereka yang mengapai nilai Mumtaz dan Jayyid Jiddan. Bukan aku berbesar kepala karena aku selalu mendapatkan nilai baik setiap tahunnya dan tidak lagi mensyukuri hal tersebut hingga membuatku tidak bersemangat saat dipanggil takrim, namun.... aku terdiam dan melewati bangku-bangku itu dan hanya terdiam, belum saatnya aku memberitahukanmu teman.

"Mabruk yaa Sep."ucapan selamat dari orang-orang disekitarku dan aku balas dengan senyum terindahku dan selalu menepuk pundak mereka yang belum berkesempatan mendapatkan nilai baik seperti diriku. Inilah yang selalu membuatku merasa kurang sukses dalam meraih nilai, disaat orang-orang disekitarku malah mendapatkan kegagalannya dalam studi.
*****
"eeeh des lihat deeh cerpen kamu kembali dimuat di Republika tu,"
"waaah bakal ada makan enak niii malem ini." celoteh ria saat mendengar fuji bilang kabar baik itu.
"hahaha ayo ayooo mau makan apa ciih ???,"
"waah beneer yaaa makan udang rebus kuah pedas maa, sambel ijoo okee yaaa Des,"
"aman ituuu riaaa, aku nanti tinggal buaat tulisan yang mendeskripsikan makanan itu seeedetail-deailnya untuk kamuuu ia, biar kamu bisa membayanginnya dan menikmatinya."
"huuh kamu maah selalu gituu." sambil menjitak kepalaku.
"hahahaha," gak kuat aku dan fuji menahan ketawa melihat ria yang sudah melipat-lipat wajahnya sambil manyun ala ngambeknya.
"riaa sayaang aku bakal neraktir kalian semuaa, pas uang pembayaran cerpenku dibayar yaa, jadi tenang aja deeh kalian berdua kan teman terbaikku."
"janji yaaa." ria menelusuri kebenaran dari omonganku.
"ya elaah riaaa, aku tuuh dah bakal bisa kemana-mana deeeh kan kamu tu dah kayak detektif conan yang selalu saja bisa memecahkan tempat persembunyianku, hihihi." balas aku menyakinkannya.
******
"Sep, kamu mau makan apa ?"
"terserah kamu aja deeh, aku mah nurut ma bos besar." celotehku kepadanya.
Desi orang yang pertama kali menjadi temanku dan sampai saat inipun selalu menjadi teman baik bagiku. aku dan dia sangatlah berbeda, aku anak yang terlahir sebagai kutu buku, pendiam dan tidak banyak bertingkah, sedangkan dia anak yang sangat lincah, cekatan periang dan selalu saja dapat membuat orang di sekitarnya merasa nyaman.
saat pertama kali aku melihatnya memang ada perasaan risih ke dia maklum aku anak pindahan dari kampung akibat orang tuaku dipindah tugaskan. Lagi-lagi Desi dapat menyakinkanku bahwa dia dapat menjadi teman baik bagiku.
"Bang nasgor yaa, yang pedes jangan lupa, seperti biasa bang." Dengan nada khasnya.
"Des, apa sihh yang kamu cita-citakan untuk kedepannya nanti ?"
"Biarlah angin yang membawa langkahku untuk menggapai masa depanku Sep" senyumnya kepada ku
"kalo kamu Sep ?"
"Aku sih pengen menjadi guru yang baik dan turut melahirkan generasi-generasi berkualitas kedepannya"
Kantin berubah hening, hatiku berteriak dan berdoa sekencang-kecangnya untuk masa depan sobatku yang satu ini
"janji yaa sep, kalo kamu sukses nanti jangan pernah melupakan aku yaa..."
kepalaku mengangguk "kamu juga yaa des, awas aja kalo lupa ke aku, aku bakal lebih galak dan tomboy dari kamu nantinya."
"hahaha." tawa kami siang itu mengiringi makan siang menjelang sore hari itu.
******


0 komentar: