0

8 Agustus 2014

Posted in
Meski tergesa-gesa saya berjalan menyusuri pelataran masjid Al-Azhar, namun tetap saja rasa kagum itu timbul saat melewati bayang-bayang dari dua buah menara masjid yang begitu tampak kokoh itu.
Agustus di Kairo berarti neraka buat anda yang memiliki kulit sensitif tidak kuat menahan panas, jangankan api lantaipun akan dapat membakar anda. "ini bukan saya menakut-nakti lhoo ^_^." 

Bulan Agustus kompak sudah bumi dan langit mengeluarkan panasnya secara bersamaan, tidak ada lagi tempat ternyaman di bumi kinanah melainkan di dalam rumah dan menghadap kipas angin, bahkan kalau hari itu merupakan puncaknya panas, mungkin hanya sia-sia bagi anda melakukan meditasi di depan kipas angin, karena saat itu kipas anginpun akan mengeluarkan angin panas, wal-hasil anda hanya akan kepanasan juga berada di depannya.

Bagi saya meski demikian bulan Agustus selalu menjadi bulan penuh sejarah dan mendebarkan, harap-harap cemas, yaa, seperti hari ini aku berlari-lari menerobos keluar masjid Al-Azhar bukan karena dimarahi guru, apalagi dikejar anjing,"fuh."
Banyak yang ingin saya ceritakan tentang Agustus namun bentar yaa, saya harus atur nafas ini terlebih dahulu, maklum jarak masjid Al-Azhar menuju Mahatha (red:terminal) darasah cukup jauh jaraknya, namun apa mau dikata memang hanya itu satu-satunya tempat pemberentian bus yang akan saya tumpangi menuju Hai Asyir (distrik ke 10) yang terletak jauh sekali dari komplek kampus Al-Azhar, dan otomatis membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di Asyir  apalagi kalo ditempuh dengan cara ngesot, plis deeh gak bakal sampe, mungkin itu pulalah yang menyebabkan kenapa suster ngesot tidak ditemukan di Mesir hehehe.
Huuh Alhamdulillah, untung tidak terlambat, bus yang saya butuhkan masih ada di Mahatha.  Memang kendaraan menuju ke asyir tidaklah banyak, hanya bus bertuliskan 80 dengan coretan di tengah-tengah angkanya yang biasa para mahasiswa asal asia menamakan bus delapan puluh coret, dan andalan mahasiswa bersaku mahasiswa sejati, sebuah bus favorit dengan ongkos murah meski perjalanan jauh dan hanya bus inilah yang dapat mengantarkan kita langsung menuju hai asyir daerah di mana pusat pergerakan dan tinggalnya mahasiswa Indonesia yang biasa disebut-sebut dengan MASISIR (Mahasiswa Indonesia Mesir). Ada Kemdaraan lain namun tidak cukup sekali jalan karena kita akan sambung-menyambung kendaraan turun naik berganti tempat dan repot deeh selain itu juga pasti biayanya cukup mahal.
"asyir asyir," teriak kondektur saat bus mulai berjalan, kelegahan saya saat ini sangatlah besar, di samping saya tiba di mahatha tepat pada waktunya dan mendapati bus yang saya cari, dan sayapun mendapatkan tempat duduk "bulan agustus yang spesial," batinku saat bus Mercedes Benz yang aku tunggangi merapat ke jalan raya.
Jendela kaca kubuka lebar-lebar, kancing atas kemejakupun saya buka hingga dada, kaos dalam yang saya kenakan sudah bermandikan keringat gerah rasanya, sebisa mungkin saya siasati agar tetap nyaman, hadset sudah kupasang di telinga, seketika itu alunan musik hip hop kesukaanku terdengar.
Sambil terus memandangi jalan-jalan yang dilalui oleh bus pikiranku melayang membayangkan hari yang indah ini, sebentar lagi tanggal delapan agustus waktu Indonesia dan saya telah janjian dengan ibunda tercinta serta keluarga besar diIndonesia untuk Skype-an, dan saat ini telah menunjukkan pukul 12 siang waktu Kairo "berarti satu jam lagi," desisku seorang diri, karena perbedaan waktu antara Indoensia-Mesir adalah lima jam dan Indoensia lebih cepat dari pada Mesir.
"apa yaa yang disiapkan ibu untukku saat ini untuk hari sepesialku," saya senyum-senyum sendiri saat membayangkan sesuatu yang indah tanpa ingat akan panas udara disekitarku, karena bus mulai padat, banyak penumpang yang naik saat di pemberentian Nadi Sikkah tadi. Tidak sengaja aku melihat seorang ibu-ibu berperawakan tambun bahkan bisa dikatakan over, berdiri di tengah-tengah kerumbunan penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk. Hati ini miris melihatnya, teringat bagaimana jika posisi itu adalah ibu saya.
Seketika itu mulutku terucap "fadholi ya madam," (silahkan buk) madam adalah panggilan biasanya untuk para ibu-ibu di mesir selain abla karena abla biasanya diperuntukkan untuk mbok-mbok yang bantu-bantu.
"La, kholi ya ibni, " (tidak usah repot-repo) ucapnya sambil menahan tubuhku berdiri dari tempat dudukku.
"must musykilah ya madam, ana nazil suwayyah," (gak masalah buk, saya sebentar lagi juga akan turun) jawab saya ketika itu juga seraya memaksanya untuk duduk, karena saya faham betul bagaimana tabiat orang Mesir dengan basa-basi yang begitu besar.
Saat itulah dialog antara saya dan sang ibu terjadi "syakir awi ya bni,"(terima kasih banyak nak) ucapnya dengan senyum mengembang di wajahnya, saya hanya dapat membalas senyumnya sambil menyentuh dada dengan tangan kanan tanda terima kasih kembali bagi adat orang Mesir.
"inti ruh fine ya mama ?,"(ibu mau kemana ?) tanyaku basa-basa sesaat kemudian.
"ruh gama salam."(ke masjid Assalam) dari situ saya ketahui bahwa ibu bertubuh tambun ini ingin menuju masjid Assalam , sebuah masjid yang juga terletak di daerah hai asyir, daerah yang akan saya tuju, dan percakapan terhenti saat aku kembali melihat sang ibu telah tertidur.

Ada senyuman di wajahnya saat mataku menangkap wajahnya yang berada tepat dibawahku karena posisinya yang duduk dan aku berdiri.
Bus berlalu tanpa hambatan, karena jam pulang aktifitas orang-orang Mesir adalah pukul 3 sore, jadi jalan-jalan memang terlihat lebih renggang. Memasuki kawasan pertokoan hai tamin (distrik ke 8) mulai terasa adanya kemacetan kecil dan itupun sebenarnya bukan disebabkan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, namun lebih karena badan jalan yang habis dimakan parkiran mobil, hal ini karena memang di Mesir sangat jarang ada lahan parkir yang sengaja dibuat, bahkan bisa dikatakan tidak ada, apa mungkin ini faktor karena rumah-rumah masyarakat Mesir yang umumnya adalah rumah susun hingga mereka tidak memiliki halaman apalagi lahan parkir, bahkan toko-toko besar sekalipun tidak menyediakannya, jadi badan jalanlah yang menjadi sasarannya, wal-hasil jalan yang tadinya dapat dimuat 3 jalur mobil dengan arah searahpun menjadi hanya 1 jalur saja yang dapat berpungsi.

Bus mulai berbelok menuju arah manhal sedikit lagi saya akan sampai. Terlihat sudah kubah masjid Assalam yang khas berwarna hijau tegas. Dengan tiga buah kubah, bahkan tempat wudhunyapun dirancang memiliki kubah juga.
Huuh memasuki daerah bawabah sedikit lagi saya sampai, namun saya merasa curiga "ada sesuatu yang aneh deh," ucapku dalam hati namun tidak menyadari apa yang saya rasa itu aneh, sesaat kemudian saya baru tersadar bahwasanya ibu yang duduk disampingku tadi bertujuan ingin ke masjid Assalam, sedang masjid tersebut sudah terlewat dan ibu itu masih saja terlelap tidur tanpa merubah sedikitpun dari posisi awal.

"umii ya madam, gama salam kholasu hina," (bangun buk, masjid assalam sudah lewat dari sini) ucapku seraya membangunkannya.
Namun tidak ada respon apa-apa darinya, dalam hatiku ibu ini pasti sangatlah lelah, akhirnya saya memberanikan diri untuk menyentuh tangannya secara perlahan agar dia terbangun karena semakin telat dia bangun bus akan semakin jauh meninggalkan masjid Assalam yang dia tuju.

"innalillahi," ucapku kaget saat lengan yang kusentuh tersebut sangat dingin, sesat kemudian kesadaranku pulih dan aku sadari ternyata wajah ibu yang berada disampingku sudah memucat, kontan seketika itu aku berteriak, "albaqou lillah, albaqou lillah," (kekal hanyalah milik Allah) kebiasaan orang Mesir saat mengetahui kematian seseorang dan dilanjutkan "innalillahi wa inna ilaihi raji'un."

Sontak seluruh penumpang melirik padaku bahkan kondektur yang dari tadi duduk dikursinya loncat langsung menghampiri sang ibu, dan langsung menyuruh beberapa orang untuk mengangkatnya ke kursi panjang bagian belakang bus. Bus seraya terhenti seketika di depan bawabah tani.
Orang-orang berkerumun kebelakang termasuk supir delapan puluh coret yang ku tumpangi, tangis histeris terdengar dari kerumunan orang-orang tersbut. Saya sudah benar-benar panik saat itu, namun saya melihat betapa teduhnya wajah ibu tersebut, sama seperti awal saat saya menawarinya duduk.

Sang supir langsung kembali mengemudikan bus, namun mengambil arah berlawanan tidak lagi menuju hai asyir namun malah sebaliknya, saya belum paham ke mana arah tujuan sang supir ini.
Sesampainya ditikungan depan masjid Assalam bus berhenti dan orang-orang langsung mengangkat sang ibu turun dan menuju dalam masjid Assalam, sontak aku berkata "Allahuakbar, Allahuakbar," bulu kudukku merinding, inikah tujuan ibu itu sejak awal, dia ingin menutup matanya yang terakhir di masjid Assalam, inikah rahasia dibalik semua tujuan dia berangkat jauh dari nadi sikkah menuju hai asyir hanya ingin meninggal dimasjid Assalam. Hanya kalimat tahmid yang dapat saya ucapkan ketika itu.
Agustus penuh teka-teki dan kejutan, aku tertunduk seketika itu melangkah gontai menuju Rumah Limas tujuan awalku di mana aku janjian dengan keluarga dan orang tuaku. Sudah tidak ada lagi hadiah yang ingin kupinta dari orang tua, sudah tidak ada perlu perayaan yang setiap tahun kutuntut, tahun ini pelajaran sangat mahal kudapat tepat jam 12 malam waktu Indoensia. Sanah Helwa ya Gamil 



0 komentar: