0

Menuju PPMI 1 Part One

Posted in
Dalam sujud panjangku di salah satu pojok Pasangrahan KPMJB Mesir di sela-sela penghitungan suara pemilihan presiden dan wakil presiden PPMI Mesir Periode 2014-2015. Saat itu perolehan suara sudah cukup sangat jauh, bukan kekalahan yang menjadi kekhawatiranku saat itu, namun kembali mempertanyakan kepada diri ini dan kepada sang pencipta diri ini, pantaskah aku memimpin orang-orang sholeh ini yang notabanenya adalah mahasiswa-mahasiswa faham dan sangat mengerti agama ?, mampukah aku untuk dapat menghantarkan mereka semua untuk dapat meraih apa yang di cita-citakan orang-orang yang menyayangi dan disayangi mereka untuk dapat benar-benar meraih manfaat dari jauhnya mereka meninggalkan kampung halaman mereka ?.
Bulir kristal itu lambat laun menganak sungai, tak sanggup kepala ini ku angkat walau seinci, linangan air mata itu terus deras mengalir membasahi karpet dan sekejap mengering disela-sela penyebutan namaku dan pasanganku mas Hujaj Nurrohim.
Hati ini hanya dapat berdegup kencang seraya mengagungkan namaMu, sebesar inikah kepercayaan Masisir kepada kami berdua, hingga mengungguli pasangan lainnya. Aku yakin dan sepenuhnya percaya bahwasanya pasangan lainnya lebih baik daripada kami berdua terutama dariku namun semua ini takdir Allah lagilah yang berbicara.
Presiden PPMI bukanlah impianku selama ini bergerak membantu masisir dalam hal apapun, bahkan dua tahun periodeku diamanahi di dalam kabinet PPMI bukanlah niatku sebagai batu pijakkan ataupun tangga menuju ini semua. Semuanya begitu cepat berubah sampai hari ini di mana orang menyapaku pak pres dan mentalku masih belum siap.
Semua berawal dari pembicaraan salah seorang yang sangat cinta terhadap ilmu yang tidak dapat aku sebutkan namanya. Lewat pembicaraan dari hati ke hati saat menunjau lokasi penginapan yang akan digunakan saat rihlah tarbawiyah PPMI ke Luxor-Hurgada, di bawah langit malam penuh bintang-bintang, di sela-sela sahutan suara jangkrik kampung yang belum punah oleh serakahnya kota, sambil menanti waktu tahajud tiba pembicaraan itu bermula. "Gus sampean kan sudah dekat dengan para masayaikh karena sering ikut pak pres kemana-mana, cobalah untuk bisa menjaga hubungan baik beliau dengan para masayaikh ini gus, majulah untuk kandidat PPMI kedepannya."
Hanya senyum yang ku lemparkan kepadanya, aku segan untuk berkata apa-apa bukan karena senioritas saat itu, namun lebih kepada karismanya yang begitu besar."
Bagaimana kalo sampean mendampingi pak......(kandidat presiden) biar beliau presidennya kamu wakilnya gus?."
Kembali aku tersenyum dan tak berkata apa-apa, dalam hatiku apakah aku pantas mewakilinya, dan aku tahu betapa perfectnya orang yang baru saja disebutkan olehnya. Aku mengenal betul nama itu, salah satu kandidat MA (s2) di Universitas Al-Azhar Mesir.
"apa kamu mau gus, hubungan baik ini akan hilang begitu saja sedangkan inilah ruh yang selama ini kita cari gus?."
Bergetar hati ini, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori dan membentuk gumpalan-gumpalan micro, saat membayangkan hal indah ini akan hilang begitu saja.
Aku mengangguk tanda iya, untuk dapat menjaga amanah dan harapan ini, apapun posisi itu dan apapun caranya untuk mempertahankan kebaikan ini.
"iya mas agus siap mewakili beliau toh selama ini juga agus bergerak di PPMI tidak pernah melihat jabatan apapun itu dan mengerjakan apapun saja yang bisa agus kerjakan untuk membantu teman-teman."
"Alhamdulillah mas, besok kita minta doa kepada fadilah syaikh ya mas biar barakah."
pembicaraan itu terputus dengan sama-sama beranjak dari tempat tidur dan menunaikan ritual qiyamul lail.

0 komentar: