0

Embun Pagi

Posted in
Embun pagi yang selama ini berbutar cepat dalam khayalan sepiku pagi ini benar-benar nyata terlihat walau hanya dalam mimpi. Aku bersandar di salah satu tiang ranjang besi reot dan berkarat yang selama empat tahun ini memadati ruang tidur 4x4 meter persegi yang berada di salah satu gedung asrama Buuts* bersama ratusan kamar lainya dengan penghuni dari berbagai penjuru dunia.
Sesekali mataku berkedip, semua yang berada dihadapannku terasa masih membelur akibat daya fokus mataku yang masih lola, sepersekian detik aku tak sadarkan diri sebelum miko kucing kesayanganku dengan gemasya melompat dipagkuanku, kucing putih dengan bulu panjang dan lebat percampuran anggora dan persia, mata bulat besar menantag dengan kumis-kumisnya yang menjuntai lebar ke kiri dan kanan. kucing ini aku dapatkan dari sahabatku maroko yang sudah 6 bulan ini pulang selamanya ke negaranya seusai menyelesaikan studi doktoralnya. aku bersyukur kucing secantik ini aku dapatkan dengan gratis, karena sempat aku iseng survei pasar hewan dan menanyakan berapa harga kucing persia di Mesir ini, dan hasilnya cukup membuatku menelan ludah.
"Dzi Bikem ya ammu ?" tanyaku dengan bahasa amiyah kepada salah seorang penjual hewan di Suq Gummah*
"dzi Tumtu meyah ya habibie" (ini harganya delapan ratus Pond)
"wallah ya ammu ??? dzi kitsir awi" sahutku tidak percaya dan mengatakan kepadanya bahwasanya harga itu begitu mahal.
memang di Mesir kucing anggora terkadang berseliweran di tong-tong sampah sambil mengais-ngais sisa makanan, saat pertama kali aku tiba di Mesir aku bahkan berkhayal untuk membawa semua kucing-kucing jalanan ini dan menjualnya ke Indonesia ^_^
Namun berbeda halnya degan kucing jenis persia dengan bulu seperti boneka ini, mereka memiliki harga jual yang sangat tinggi ketimbang hewan lainnya dan di atasnya adalah anjing helder yang menempati harga jual tertinggi untuk bangsa hewan di Mesir.
Sambil membelai-belai tubuhnya yang bongsor, aku kembali menikmati embun pagi itu dengan mata terkatup dan seluruh cakrawala pikiranku terpusat hanya pada satu titik penerenungan betapa seimbangnya dunia ini Allah ciptakan.
Begitu banyak ayatunnahar dan ayatullail yang kita temukan dan kitab suci pedoman manusia hingga kiamat nanti yang juga merupakan mu'jizat terbesar yang pernah ada di antara kenabian, ini semua tidak lain adalah petunjuk untuk kita semua.
Semakin dalam aku mereungi keindaha dunia semakin kunikmati tetesan-tetesan embun itu membasahi jiwa raga ini, mbak molekul-molekul udara yang mencapai titik jenuhnya dan menghasilkan butiran-butiran air sejuk yang berproses lewat suhu yang cukup dingin dan ketenangan arah angin hingga membuatnya menempel pada benda-benda yang cendrung berdiam diri. 
Semakin kuhirup segarnya udara pagi ini semakin terbuka cakrawala pemikiranku mbak juntaian tali-temali yang perlahan membentuk rasi-rasi simetris penuh makna aku semakin menikmati embun itu dalam keterpanaanku menikmati segala ciptaan Allah Swt.

*Asrama yang disiapkan oleh Al-Azhar untuk para mahasiswa/inya dari berbagai negara
*Pasar yang hanya ditemui pada hari Jum'at

0 komentar: