0

Mentari Tak Pernah Mati

Posted in

Setiap pagi aku akan selalu menemukanmu mentari, rasanya tidak ada yang spesial karena ini selalu saja berulang setiap hari, sinarmu terkadang mengganggu tidur panjangku yang baru saja akumulai karena musim panas di Mesir mengharuskanku untuk menemani malam-malam singkatnya.

Mentari kadang kau hadir begitu menyiksaku dan kawan-kawanku yang ingin berpergian menuntut ilmu di musim panas, jikalau suhumu mencapai hingga 47 derajat celsius seperti 3 hari yang lalu (5/6/2014). Akupun bahkan tidak lagi dapat menikmati hamparan keindahan tanah Musa ini jikalau cahayamu sangat menyilaukan mata kecil made in Asia ini.

Seketika saat perjalanan Luxor 2 hari yang lalu mata ini terbuka lebar dan segala keegoisan ini luluh lantak. saat aku melihat betapa seorang nenek tua renta di dalam perjalananku berada di tengah lapangan luas di bawah terik matahari, seketika perhatianku tertuju padanya, dengan telaten tangan keriput ini memilah milih bebijian cabe yang sudah tidak segar lagi di hadapannya. aku coba memberanikan diri mendekat padanya dan ku sapa dengan senyum seramah Indonesia.

"ya Saidah, ya karimah, bi ta'mal eh ?" (red: wahai nyonya apa yang sedang kau lakukan)
Tersenyum sang nenek memandangiku dan berkata, saya sedang menggali rezeki dalam matahari.
Aku tersenyum tidak mengerti.
Rupanya sang nenek menyadari akan kebingunganku yang mungkin tampak dari raut wajahku meski sudah ku coba menyembunyikannya di balik senyum.
Saya menjual cabe-cabe kering yang saya dapati dari sisa-sisa cabe yang hampir busuk di pasaran, musim panas ini menjadi ladang besar bagi saya. karena mentari yang terik membuat cabe-cabe ini mengering secara maximal. "Allahu yarzukni bi syam"
Tertunduk aku mendengarnya.
Di kala musim dingin saya tidak dapat melakukan ini karena mentari tidak sepanas ini.
Aku mulai merenung betapa pentingnya sinar mentari meski panas sekalipun untuk sebagian orang, meskipun ada sebagian lagi yang tidak menyukainya namun inilah ciptaan Tuhan yang maha agung.

". . . dan (Allah) menjadikan matahari sebagai pelita."
- Al-Qur’an | Nûh 71:16

"Dan kami jadikan Pelita yang amat terang (matahari)."
- Al-Qur’an | Nûh 78:12

Aku baru sadar apa jadinya jika matahari tidak ada? Tentu saja kita akan kesulitan. Ia diciptakan bergerak agar siang dan malam terjadi di setiap belahan bumi. Andai tak ada matahari, urusan dunia dan agama akan kacau-balau.

Andaikata tak ada matahari, bagaimana kita akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup? Bagaimana kita melakukan sesuatu, sedangkan dunia gelap-gulita? Bagaimana kita bisa bersuka-ria, sedangkan nikmat cahaya tidak kita peroleh? Dan andaikan cahaya matahari tidak ada, mata kita tidak lagi berguna karena sudah tidak ada warna untuk dilihat. [fabi ayyi ala irabikuma tukazziban]

Aku menyadari terbit dan terbenamnya matahari. Di kala malam, membuat kita bisa tidur pulas dengan tenang. Dengan demikian, kita bisa mengistirahatkan badan, membiarkan semua indera kita tidak bekerja, dan bisa meningkatkan daya serap pencernaan.

Semua itu kita butuhkan, agar kita bisa terus bekerja pada esok siangnya. Dengan bekerja pun, kita bisa sehat dan tetap bugar. Dan kebutuhan sehari-hari pun bisa terpenuhi.

Bumi bisa menyerap panas yang dipancarkan matahari. Namun, dengan pergantian siang dan malam secara teratur, bumi tidak terlalu panas atau terlalu dingin; bumi menjadi hangat. Dengan demikian, makhluk hidup di atasnya hidup dengan nyaman.

Demikianlah siang dan malam, terang dan gelap. Meskipun berlawanan, keduanya saling membantu untuk kebaikan semua makhluk hidup, bahkan untuk kebaikan alam semesta.


. . . dan (Dia) menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
- Al-Qur’an | Ar-Ra‘d 13:2

Pergeseran matahari menghasilkan beberapa musim dalam setahun, yang tanpa terasa sangat bermanfaat untuk kita.

Di Musim Dingin, pohon dan tetumbuhan kembali memperoleh partikel kalori, sehingga timbullah benih-benih pembuahan. Angin udara pun agak terbuka, sehingga awan bisa menumpuk dan turun hujan. Karena hawanya yang dingin, tubuh hewan menjadi kuat dan kerja alam menjadi optimal.

Di Musim Semi, benih-benih yang muncul di musim dingin mulai berkembang, sehingga lahirlah tumbuh-tumbuhan baru —atas perkenan Allah SWT. Di musim ini, hasrat hewan-hewan bergejolak untuk berkembang-biak.

Di Musim Panas udara menjadi kering dan buah-buahan sudah mulai matang. Permukaan bumi mengering, sehingga bisa ditanami berbagai macam tumbuhan.

Dan di Musim Gugur, udara menjadi bersih, sehingga berbagai macam penyakit menghilang. Malam menjadi lebih panjang, sehingga bisa kita jadikan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu. Berkebun pun baik dilakukan di musim ini.

Kita haruslah lebih bersyukur karena Indonesia memiliki variasi musim yang berbeda dengan gambaran Al-Ghazâlî, berkat posisi geografis Indonesia yang menyentuh garis Katulistiwa. Coba renungkan, hikmah apa dibalik perbedaan musim ini kawan!

Dalam satu hari, sinar matahari memancar ke seluruh penjuru bumi dengan cara yang unik. Andaikata ia memancar dari satu arah saja, ia kemungkinan akan terhalang oleh gunung atau tembok-tembok. Ini menjadikan sinar matahari tidak bisa dirasakan di tempat-tempat tertentu.

Sinar matahari memancar untuk kebaikan bumi dan segala isinya. Caranya memancar adalah menggeser dirinya dari tempatnya terbit menuju tempatnya terbenam. Dengan demikian, permukaan bumi sepenuhnya bisa tercerahkan oleh sinarnya yang bermanfaat.

Ukuran malam dan siang dirancang dalam durasi yang baik untuk bumi dan segala isinya. Andaikan malam lebih panjang daripada biasanya, bumi akan beku dan hewan-hewan tertentu tidak bisa bekerja untuk bertahan hidup. Sementara tetumbuhan akan membeku, sebagaimana terjadi di tempat-tempat yang tidak terpancar sinar matahari.

Pun andaikata siang lebih panjang ketimbang biasanya, penghuni bumi akan mengalami kerusakan. Bumi akan terasa lebih panas, sehingga tidak bisa ditanami tumbuhan apapun. Sehingga, persediaan kebutuhan hidup akan kurang dari yang dibutuhkan manusia.

Aku mencoba mencari tahu akan hakikat Matahari itu sendiri karena pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak terpukau itu benar. dan tahukan anda sobat apa yang aku dapatkan bahwasanya mentari adalah sejenis planet yang berdiameter lebih dari 1.000.000 meter. Ini berarti, diameter matahari sama dengan 100 kali diameter bumi. Panas permukaan luar matahari sekitar 6.000 derajat. Semakin ke dalam, panas matahari semakin bertambah hingga mencapai lebih dari 20.000.000 derajat. Hal ini karena tekanan di pusat matahari sangat tinggi. Matahari bisa menyemburkan gas api ke tempat yang sangat jauh dari permukaannya. Di antara semburan itu dikenal dengan sebutan Titik Noda Matahari, semacam angin puting beliung di atmosfer matahari, yang diameternya bisa mencapai 50.000.000.000 kilometer. Subhanallah !!!
Saat ini detik-detik yang selalu tidak ingin kulewati adalah saat pertemuan dan perpisahan dengan matahari yang begitu indah dan menjadi salah satu sumber kehidupan manusia dan seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Allahu Akbar

0 komentar: