0

Khianati dan Sakiti Sampai Dengki

Posted in
Mengapa ada orang masih merasa terzhalimi, merasa terkhianati, merasa tersakiti, merasa dilecehkan, merasa dihinakan, merasa ter.. dan ter.. ???
Semua perasaan itu akan sakit dan menyakitkan jika kamu menjadikan dirimu sebagai seorang pesakitan. Berdamai dengan kesedihan dan kedukaan. Bermanja-manja dengan perasaan luka. Melankolis. Menjadikan diri Anda pantas untuk dikasihani. Sungguh kasihan orang semacam ini!
Cobalah buka mata secara lebar dan mulai bertanya kepada diri Anda sendiri, "What is wrong with me?" Apa yang salah dari diriku?!! Mungkin orang lain bersalah padaku, tapi tak menutup kemungkinan bahwa kesalahan itu bersumber dari aku. Bisa jadi, why not?!!
Seorang pasangan bisa meninggalkan pasangannya, tak semata karena ada pilihan lain yang lebih cantik, lebih kaya, lebih cerdas dan kelebihan lainnya.
Saya yakin itu hanya alasan klise sebagai suatu pembenaran.
Kesalahan dirimu yang tak pernah kau sadari bisa jadi:
>> Kau bukan mencintai, tapi kau memaksa dicintai! Sehingga pasanganmu merasa tak ada cinta, tapi pemaksaan!
>> Kau bukan memperhatikan, tapi kau memaksa diperhatikan! Sehingga pasanganmu merasa tak ada perhatian, tapi justru pengekangan!
>> Kau bukan menjaga, tapi kau selalu menjaga-jagai, mengawas-awasi! Sehingga pasanganmu merasa tak ada penjagaan, tapi justru pengawasan!
>> Kau bukan mendengarkan, tapi kau memaksa didengarkan! Sehingga pasanganmu tak lebih dari kotak aspirasi yang hanya menampung kegelisahan dan problematikamu.
>> Kau bukan memberikan solusi, tapi kau mempermasalahkan hal sepele! Sehingga pasanganmu merasa kau bukan memberikan kasih sayang, tapi justru menyulut pertengkaran dan permusuhan.
Sadarilah, ketika dirimu merasa paling benar, paling mencintai, paling memperhatikan, paling memberi, paling mengerti, paling mendengarkan, paling bisa memberikan solusi dari permasalahan, paling mendamaikan, paling menentramkan, paling mencerdaskan. Adakah pasangan jiwa yg bisa melepaskan dari jiwamu?
Tak ada kecantikan, kekayaan, kelebihan apapun yang bisa tergantikan diatas kemampuan memahami, kemampuan menerima, kemampuan memberi. Bila ia mencari yang lain, pasti akan kembali. Jadi, jangankan salah angin menjatuhkan daun yang kering, karena layunya telah masa waktunya! Bersemilah selalu! Oleh: Ust. Miftahur Rahman El-Banjary, MA

0 komentar: