0

Tinggal Di Gedung Tinggi

Posted in
Di Mesir masyarakat Indonesianya kebanyakan menyewa sebuah apartemen dengan 2-3 kamar dan sebuah ruang tamu yang tidak terlalu pantas jika dikatakan itu luas, karena memang tidak bisa dibuat untuk bermain futsal walau man to man ^_^ dan sebuah dapur yang selalu setia menciptakan masakan ala Indonesia untuk mengobati rasa kangen akan tanah air dan yang pastinya dengan sebuah kamar mandi 2x2 persegi.
Rumah-rumah disini sangat berbeda dengan di Indonesia, kalau di Indoensia rumah bertingkat atau gedung, cendrung dapat dipastikan bahwasanya yang menempatinya pasti mereka berprekonomian menengah ke atas dan memang kebanyakan masyarakat Indonesia mempunyai rumah cukup dengan satu lantai terutama di kampung-kampung seperti dulunya saya.
Disini berbanding terbalik, bahkan sangat jarang ditemukan rumah yang hanya berlantai satu kebanyakan di sini adalah gedung-gedung bertingkat enam ke atas apalagi untuk kawasan Madinat Nasr yang terkenal padat pemukiman, bukan karena mereka semua orang menengah ke atas dalam prekonomiannya, tetapi memang kebijaksanaan pemerintah, terkait ketergantungan masyarakat Mesir pada sungai Nile, karena memang seluruh air yang digunakan untuk kesehariannya mengandalkan pengairan pompa yang disedot dari sungai Nile.
Andai semua orang boleh membangun rumah sendiri-sendiri seperti di Indonesia bisa dipastikan pemukiman akan sangat luas dan itu memerlukan pompa yang sangat besar bahkan pipa-pipa akan berkilo-kilo jauhnya untuk memenuhi kebutuhan mereka akan air.
Data yang saya temukan di internet menyebutkan, bahwa lahan yang dipakai untuk pemukiman di Mesir adalah 5% dari total seluruh daratan wilayah Mesir. Selebihnya terdiri dari lahan tandus padang pasir dan sungai Nile. Mesir adalah negara nomer satu pemerataan pemukiman terburuk di Timur Tengah.
Di Mesir kita tidak akan mengenal hujan, mengapa ? karena dalam setahun bisa di hitung pakai jari hujan yang turun mengguyur Mesir, bahkan itupun hanya rintik-rintik. Hujan hanya datang pada pergantian musim panas ke musim dingin dan pada musim dingin ke musim semi.
Pada saat tahun pertama, saya masih rajin menghitung hujan ^_^, karena masih selalu ingat ke tanah air. Ketika itu hujan hanya terjadi tujuh kali dan itu tidak sepenuhnya hujan air yang pertama kali hujan debu (nanti saya akan ceritakan) kedua hujan air bercampur debu, hujan gerimis air, hujan air lebih deras namun sesaat, hujan krikil es.
Untuk menanggulangi hal itu, pemerintah mengambil alih masalah pemukiman penduduk, pemerintah membangunkan gedung-gedung tinggi yang disebut Imarah yang di dalamnya terdapat rumah-rumah yang disebut saqoh. Satu Imarah kebanyakannya terdiri sekitar 20 saqoh yang dihuni oleh 20 keluarga, rumah ini cenderung sama persis satu dengan yang lainnya dan ini disebut perumahan sabih yang memiliki batas waktu yaitu 100 tahun. Jika sudah mencapai umurnya Imarah ini akan dihancurkan oleh pemerintah.
Jadi mesikpun dia orang miskin sekalipun dia akan tetap memiliki rumah di sebuah gedung yang tinggi, ibarat di Indonesia bisa kita analogikan dengan PERUMNAS (perumahan nasional).
Untuk bisa membedakan ini orang kaya atau bukan, dapat dilihat dari isi rumah itu sendiri ada istilah saqoh mafrusyah (rumah dengan isi yang lengkap), saqoh fadi (rumah tanpa perabotan rumah), dan inipun terjadi pada rumah-rumah yang disewakan kepada Ajnabi (sebutan untuk orang asing di Mesir) ada yang fadi dan mafrusyah dengan harga yang berbeda.
Untuk sebuah rumah Mafrusyah per-sebulannya kita mesti merogoh kocek sebesar 1200 pond ke atas atau sebesar satu juta delapan ratus ribu Rupiah dan untuk sebuah rumah fadi harga sewa berkisar 700 pond ke atas atau sekitar satu juta Rupiah.
4500 orang mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Mesir ini hanya 30% yang tinggal di asrama selebihnya tinggal di Saqoh yang mereka sewa, sama seperti saya saat ini. Untuk mesiasati harga sewa saqoh yang sangat tinggi itu bagi saku mahasiswa Indonesia, kami mendiami sebuah Saqoh dengan 5-8 orang dan untuk pembayaran rumah kami bagi bersama biasanya kami sebulannya perkepala harus membayar 250 pond mesir atau sekitar empat ratus lima puluh ruibu rupiah, itu sudah termasuk biaya makan, listrik, air dan Internet. namun tergantung kebijaksanaan dirumah tersebut.
Pada sebuah Saqoh biasanya akan dipilih seorang kepala rumah tangga dan bendahara rumah yang akan mengatur tertibnya piket dan jalur keluar masuknya uang, biasanya yang dipilih adalah mereka yang terlebih dahulu tiba di Mesir. 

0 komentar: