0

Semuanya Bermula Dari Sini

Posted in
Saya sama seperti kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di pelosok daerah. Mengenal listrik disaat orang-orang telah menikmati kecanggihan elektronik, jangankan untuk menikmati indahnya luar negeri lewat layar televisi yang menayangkan berbagai tempat-tempat indah, untuk hanya sekedar penerangan saja kami mesti menanti kebaikan pemerintah hingga memperogramkan ABRI masuk desa. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya apalagi mencita-citakan untuk dapat bersekolah ke luar negeri.
Rencana Allah memang indah, tidak ada yang tidak mungkin bagiNya, apalagi hanya untuk memberangkatkan orang kampung seperti saya ke luar negeri.
5 Oktober 2010 menjadi perjalanan panjang bagi saya, atas izin Allah saya terbang menuju bumi para nabi yang selama ini hanya saya dapatkan informasinya sebatas  dari buku-buku bekas yang sering ayah bawakan untuk saya seusai pembagian gajinya, namun hari ini saya benar-benar menapakkan kaki di bumi kinanah itu.
Mesir memang tak begitu asing lagi bagi saya, bukan karena saya pernah berpergian ke Mesir sebelumnya, namun karena informasi-informasi yang dibagikan begitu saja oleh para penulis yang begitu baik hati, mungkin mereka juga merasakan betapa susahnya hidup di kampung seperti kami dimana akses informasi begitu sulit di dapat.
Sebelum ke Mesir saya sudah khatam membaca sejarah pyramid yang begitu kokohnya berdiri sejak priode dinasti awal pada abad ke-3 sebelum masehi hingga saat ini, bahkan saya sudah menggidolakan oase yang kenikmatannya tak terhingga bagi seorang yang tengah berada di tengah-tengah gurun pasir.
Setelah 20 menit perjalanan dari bandara Cairo menuju rumah yang akan saya tempati nantinya, semua berubah derastis, pemandangan yang terpampang sangat jauh berbeda dengan kenyataannya. Kota penuh keindahan dengan kerapihan dan kebersihan yang terjaga serta penduduk yang ramah tamah, ternyata berbalik 360 derajat. Disana-sini sampah bertebaran dan bau pesing di setiap tembok yang saya lewati, begitu mengganggu pernafasan.
Bukan saya tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan ini, namun inilah wujud kesyukuranku dengan mengkritisi negara ini, negara yang sangat ku kenal dengan istilah Ka'batu Kushot ilmu Islam ternyata memiliki masyarakat yang sangat tidak memperhatikan akan lingkungan sekitar, bahkan ada istilah yang saya dapatkan bahwasanya kullu ardin masjidun wa kullu makanin madzbalatun wa kullu jidari hammamun terjemah bebasnya seperti ini kawan "setiap tempat dapat kita gunakan untuk sholat dan setiap tempat adalah tempat sampah dan setiap dinding-dinding yang ada adalah WC tempat buang air, sungguh ironis.
Hatiku terus meronta sepanjang perjalan menuju rumah "apakah benar ini negara yang ku baca setiap harinya dulu ketika di tanah air?, ada apa gerangan yang membuatnya berubah total seperti saat ini ?" jutaan pertanyaan menghantui pikirannku.
Sehari saya di Mesir semakin banyak kejanggalan yang saya temukan di sini. Ternyata di Mesir tidak mengenal lampu merah yang menjadi andalan polisi lalu lintas di Indonesia untuk mencari rezeki lewat mereka yang melanggar rambu-rambu lalu lintas, disini kendaraan bermotor lalu lalang seenaknya tanpa memperhatikan rambu-rambu lalulintas, bahkan cerita yang saya dapatkan dari teman-teman yang telah lebih dahulu tinggal di Mesir mengatakan di sini enak kalo nabrak gak usah repot-repot seperti di Indonesia yang harus berurusan panjang bahkan ada istilah uang damai dan lain sebagainya, di sini cukup kita menganggkat tangan sambil merapatkan seluruh jemari kita dan menghadapkannya ke arah langit sambil berkata Ma'alaisy semua masalah akan selesai. Geli saya mendengarkannya.
Hari pertama saya di Mesir yang kebetulan saya tinggal di daerah Suq Madrasah kawasan pasar district-10 sudah mendengar keributan yang entah apa penyebabnya, yang jelas urat-urat leher mereka meregang satu sama lain, sambil meneriaki lawan bicaranya dengan kalimat-kalimat yang begitu asing di telinga saya.
Sesampai di rumah saya menanyakan hal itu kepada rekan saya yang begitu sabar menjelaskan setiap pertanyaan yang saya tanyakan kepadanya, ia menjawab bahwasanya hal seperti itu biasa terjadi antar orang Mesir namun berbeda dengan di Indonesia, di sini jarang sekali terjadi baku hantam antar mereka, mereka lebih senang mengangkat suara ketika terjadi keributan, karena memang di sini memukul adalah aib bagi orang Mesir kebanyakan.
Kesemerautan Mesir hampir-hampir menguapkan semua target-target yang saya canangkan saat di tanah air dulu sebelum diberangkatkan ke Mesir, ada rasa kecewa dengan kenyataan bahwasanya Mesir tidak seindah yang saya bayangkan, bahkan sampai hari ke-3 saya di Mesir. Kampuspun saya belum tahu di mana letakknya dan teman-teman serumah yang telah lebih dulu tinggal di Mesir santai-santai saja dengan berleha-leha di hadapan layar persegi yang tidak lebih besar dari kaca jendela.
Namun ini semua tidak mengurungkan niat dan semangat saya, bahkan rasa penasaran saya semakin tinggi akan Mesir ini yang nantinya menyeret saya ke dunia lain yang belum pernah saya temukan di tanah air dulu. dunia Organisasi Penuh Misteri.

0 komentar: