0

Amanah Pemula

Posted in
“Rintangan tidak selamanya menjadi beban kok,” ungkap ketua senat pada saya ketika saya menceritakan bahwa saya merasa kurang mampu untuk dapat memimpin kelompok dari Kader Syariah hasil penyaringan dari acara PAKASI yang lalu.
Saya ceritakan bahwasanya saya tidak pernah punya pengalaman untuk menjadi seorang ketua apalagi untuk mengkoordinatori rekan-rekan Kader Syariah yang sudah tersaring dengan baik itu dan secara logika saya bahwa semua hasil saringan pastilah yang berkualitas. Sambil memegang pundak saya dia berkata “dulu ketika saya masih baru sepertimu sayapun tidak punya cita-cita untuk bisa menjadi ketua senat yang menaungi hampir 700 orang, senat syariah adalah senat terbesar di MASISIR ini, namun saya hanya memiliki semangat yang besar seperti kamu saat ini, dan ingat ini amanah bukanlah jabatan.” Saya mohon pamit kepadanya untuk beristirahat pulang ke rumah yang selama dua hari ini saya tinggalkan untuk menyelesaikan tugas-tugas di sekretariat senat.
Rumah saya dan senat sebenarnya tidaklah terlalu jauh biasa saya tempuh cukup dengan waktu 5 menit, namun sore ini terasa amat sangat melelahkan perjalanan ini, saya mencoba menjari ujung dari perjalanan ini, bukanlah jarak yang saat ini menghalangi saya, namun pikiran inilah yang berjalan lebih jauh dari raga yang di tempatinya, pikiran saya mengawang-awang dan tak jua menemukan ujungnya.
Saya masih bimbang sebenarnya apalagi dengan kalimat terakhir yang disampaikan ketua senat tadi kepada saya “ini semua amanah bukan jabatan,” begitu mengganggu pikiran saya, karena saya tahu betul bahwa amanah itu tidak bisa kita tolak dan kita langgar, seperti Allah telah mengamanahkan bumi ini kepada manusia meskipun kita sebagai manusia tidak pernah memilih untuk menerima amanah ini, namun apa saya mampu untuk mengemban amanah ini “pertanyaan besar di pikiranku.”
Saat pintu kamar terbuka hanya satu tujuan utama saya, yaitu kasur dingin yang telah saya tinggalkan dua hari yang lalu, pelukan hangat langsung saya berikan dengan penuh luapan emosi, berharap semua yang mengganjal di pikiran ini bisa segera enyah. Sampai akhrinya mimpi menjemput saya di peraduan.
Keringat mengalir deras dari dahi leher dan sekejur tubuh saya, memang penghujung di penghujung bulan juni suhu udara kota Cairo sedikit meningkat dari biasanya hingga menembus angka 45 derajat celsius, angka ini saya peroleh dari alat pengukur suhu udara yang berada bisanya berdampingan dengan tempat imam sholat. Tapi bukan ini kawan penyebab keringat yang mengalir deras di dahi saya hingga kaos yang saya pakai saat tidurpun lembab terkena air yang mengalir dari dalam tubuh, ini semua karena mimpi, tepatnya adalah pikiran yang terbawa mimpi.
Saya seakan-akan di kejar sesuatu yang besar, sangaaat besar. Semakin saya berlari, semakin kuat pula dia mengejar hingga akhirnya sayapun tidak lagi dapat menghindar dari sesuatu yang besar itu, hingga saya terbangun dari tidur dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Hanya diam yang bisa saya lakukan dan merenung maksud dari mimpi tersebut. Dalam banyangan saya hanya satu yaitu amanah, apakah amanah ini yang dimaksud dengan sesuatu yang teramat besar yang mengejar-ngejar saya dalam mimpi barusan itu ?, jikalau benar, memang sampai kapan saya akan menghindar dari amanah menjadi pemimpin, karena memang saya sadari bahwa suatu saat nanti sayapun akan menjadi pemimpin minimal pemimpin bagi keluarga.
“Kullukum raain wa kullukum mas’ulun an roiyatihi” terjemah bebasnya mungkin seperti ini, bahwasanya setiap kamu adalah seorang pengembala, dan setiap pengembala bertanggung jawab atas apa yang di gembalakannya.
Malam ini akhirnya saya lewati dengan lapang dada tanpa beban pikiran karena semenit yang lalu saya telah menghubungi ketua senat dan mengatakan kesanggupan saya untuk menjadi koordinator dari Kader Syariah nantinya. Semua telah bermula.


0 komentar: